Berapa Sih Rata-Rata Gaji Karyawan Google?

Salah satu perusahaan impian bagi pegiat IT adalah Google. Nilainya yang fantastis yakni lebih dari 5000 triliun rupiah, membuat Google menjadi perusahaan ini adalah raksasa teknologi yang paling bernilai di dunia. Sebagai pengguna Android, pasti kamu tidak dapat lepas dari layanan teknologi besutan Google. Google juga terkenal sangat ‘mencintai’ karyawannya, baik dalam divis engineering maupun divisi yang lain. Fasilitas-fasilitas kantor Google juga siap memanjakan karyawannya. Nah, sebagai perusahaan impian, banyak orang yang bertanya-tanya berapa sih rata – rata gaji karyawan Google? TASOffical telah merangkumnya khusus buat kamu! Gaji Miliaran Rupiah Menurut layanan online Paysa, gaji rata-rata Google Pusat adalah 252.000 dollar AS atau setara Rp 3,36 miliar. Jumlah ini merupakan jumlah take home pay selama setahun, artinya sudah termasuk sudah termasuk gaji pokok, ekuitas, dan bonus. Namun, jika kita merinci lebih dalam lagi, gaji pokok rata-rata karyawan Google selama setahun adalah 121.000 dollar AS (Rp 1,6 miliar). Sementara itu, bonus tahunannya mencapai 32.000 dollar AS (Rp 426 juta), serta ekuitas tahunan 99.000 dollar AS (Rp 1,3 miliar). Mengingat angka ini adalah gaji rata-rata, tentunya akan ada karyawan yang meraup lebih tinggi ada juga yang lebih rendah. Perlu kamu ketahui, Google memiliki 5 departemen pokok. Kelima departemen tersebut adalah departemen teknik, manajemen, pemasaran, keuangan, dan perumahan. Dari kelima departemen tersebut yang mendapatkan rata-rata gaji tertinggi berasal dari departemen teknik yaitu senior engineering dengan rata-rata sebesar $362.000 atau Rp 5 miliar. Bagaimana Dengan Google Indonesia? Melansir dari tulisan Arman Sinaga melalui Quora, besaran gaji karyawan Google Indonesia adalah sebagai berikut Posisi Gaji Accounting Manager Rp 19,5 Jt Accounting Manager and Office Manager  Rp 10,0 Jt Assistant Marketing and Sales Manager  Rp 4,0 Jt Computer Programmer  Rp 10,0 Jt Creative  Rp 8,0 Jt Customer Service  Rp 4,0 Jt Development Manager  Rp 32,5 Jt Engginer  Rp 10,0 Jt Engineer in Charge  Rp 95,0 Jt Executive Assistant to CEO  Rp 112,5 Jt General Manager  Rp 75,0 Jt Google adsense Publisher  Rp 14,0 Jt HR GM  Rp 6,0 Jt Human Resource Management  Rp 6,0 Jt IT App Development (MT IT)  Rp 6,0 Jt Manager  Rp 37,5 Jt Managerial  Rp 42,5 Jt Mapping Area Staff  Rp 1,5 Jt Marketing Staff Development Program  Rp 4,0 Jt Operator  Rp 6,0 Jt Programmer  Rp 10,0 Jt Publisher  Rp 15,7 Jt Publisher Adsense  Rp 95,0 Jt Safety and Health Staff  Rp 10,0 Jt Sales  Rp 12,0 Jt Sales Manager  Rp 7,5 Jt Service Science Management and Engineering  Rp 2,5 Jt Special Collect  Rp 8,0 Jt STA Executive  Rp 4,0 Jt Staff  Rp 9,0 Jt System analysis  Rp 4,0 Jt Team Leader  Rp 14,0 Jt Semua angka di atas dikutip dari lama Qerja. Bisa saja nilai gaji real agak sedikit berbeda. Karena itu selalu cek dan ricek kembali angka-angka itu ya! Nah, itulah ulasan mengenai pertanyaan berapa sih rata – rata gaji karyawan Google. Tertarik mendaftar?

Benarkah NodeJS Akan Menggantikan PHP?

Web development semakin berkembang dari waktu ke waktu. Teknologi baru selalu bermunculan setiap harinya. Dari sisi back-end, terdapat dua bahasa pemrograman yang cukup mendominasi yaitu NodeJS dan PHP. PHP yang menjadi tulang punggung duni per-website-an diprediksi akan tergerus NodeJS yang merupakan pemain baru. Mampukah PHP tertap bertahan? Atau justru NodeJs akan berhasil menggantikan PHP? Pembahasan ini sebenarnya cukup “keramat” untuk diperbincangkan. Meskipun, pada awal kemunculannya Javascript hanya pada sisi front end,lambat laun merambah ke back-end dan menjadi kompetitor tangguh bagi PHP. Terlebih beberapa artikel pergeseran teknologi dari PHP ke NodeJS beberapa kali ter-blow up. Bukan hanya dalam negeri, artikel seperti “Which is better for back-end – PHP or Node js?” , “Is Node js killing PHP?” atau “Is NodeJS eating PHP Market?” sering menjadi topik perbincangan developer luar negeri. Sebagian orang akan mengganggap hal ini sebagai keuntungan. Tipe-tipe ini biasanya vendor besar yang sering mendapat ‘jatah’ project dari pemerintahan. Namun, tentu saja tidak sedikit yang akan menganggap hal ini menjadi malapetaka, karena project mereka akan otomatis berpindah tangan ke vendor yang lebih mampu. Jelas hal ini sebenarnya konsep yang salah kaprah. Jika ada teknologi baru yang lebih baik, mengapa tidak memilih yang lebih mudah?. Namun, benarkan NodeJS lebih baik dari PHP? Dan apakah PHP akan terus tergerus NodeJS? Sampai-sampai WordPresspun akan berpindah haluan ke NodeJS. NodeJS VS PHP PHP merupakan bahasa pemrograman paling umum yang dalam pengembangan webiste. Bahasa pemrograman ini dapat berperan sebagai compiler sekaligus interpreter. PHP pertama kali rilis pada tahun 1995. Saat ini versi terbaru PHP adalah 7.0.16 dan 7.1.2 yang resmi rilis pada tanggal 17 Februari 2017. Nah, NodeJS sebenarnya bukan merupakan bahasa pemrograman. Jadi, salah jika seseorang mengatakan bahasa pemrograman NodeJs. NodeJS merupakan suatu framework yang akan membawa bahasa pemrograman JavaScript ke sisi back-end. Untuk dapat menggunakan NodeJs kita harus paham bahasa pemrograman. Dari segi popularitas, NodeJS lebih unggul dari PHP. Sejak 2014 Framework NodeJS merajai kepopuleran bahasa pemrograman dengan angka 49,6% jauh melebihi PHP. Apa keuntungannya? Semakin populer suatu framework maka semakin dokumentasi akan semakin banyak. Hal ini akan mempermudah kita ketika mengalami kendala pengembangan proyek. Sebaliknya, tingkat pengguna bahasa pemrograman PHP semakin berkurang dari waktu ke waktu. Tingkat penurunan yang terjadipun cukup signifikan yakni mencapai 7% .  Di sisi lain , pengguna NodeJS meningkat tajam 18% selama 4 tahun. Dengan ini, terbukti bahwa developer-developer website mulai beralih ke NodeJS Selama proses development, PHP memerlukan web server. Meskipun server ini merupakan bawaan, namun hal ini akan memakan banyak resource server. Penggunaan server tambahan  seperti nginx tetap diperlukan untuk meningkatkan performa kecepatan PHP. Sebaliknya, NodeJS merupakan tipe single-fighter yang mampu berdiri sendiri tanpa memerlukan web server lain. NodeJS memiliki waktu eksekusi yang lebih baik dari PHP terutama dalam penambahan angka. Namun PHP memiliki waktu eksekusi yang lebih baik dalam hal operasi string, pengisian array, MySQL, dan membaca file. Perfoma NodeJS vs PHP Untuk kasus multi-tasking, NodeJS jauh lebih handal daripada PHP. Misal kita memiliki dua task yakni mengambil data dari database, dan menghapus file. Jika kita menggunakan PHP, proses ini akan dilakukan berurutan. Hapus file akan dilakukan setelah pengambilan data selesai. Namun, jika kita menggunakan NodeJS kedua hal ini dapat dilakukan bersamaan. Hasilnya, bisa jadi file terhapus duluan sebelum pengambilan data selesai. Hal ini tidak berlaku untuk multithread. NodeJS menggunakan konsep single thread, artinya hanya akan ada satu proses yang berjalan sepanjang waktu, berbeda dengan PHP yang berbasis multi-threaded. Misal terdapat empat orang mengunjungi web kita. Dalam PHP, proses ini dibuat empat thread dimana setiap pengunjung dilayani oleh 1 thread khusus. Setiap thread akan diproses dengan sistem antrian seperti sebelumnya. Sedangkan di Node.js, empat pengunjung itu akan di layani oleh 1 thread saja. Thread secara bergantian berpindah dari satu proses ke proses lain tanpa harus menunggu proses yang satu selesai. Sanggupkah NodeJS Menggantikan PHP? Sampai saat ini, kita belum bisa menyimpulkan bahwa NodeJS akan menggantikan PHP. Penggunaan NodeJS dan PHP sangat bergantung pada jenis aplikasi yang akan kita kembangkan. Pada akhirnya yang terjadi antara NodeJS dan PHP bukanlah kompetisi melainkan sinergi. Sebagai contoh, untuk project yang bersifat real-time, NodeJS lebih cocok untuk dipakai. Sebaliknya,  tidak semua hosting mendukung NodeJs, saat itulah kita harus memilih menggunakan PHP. Selamat bereksplorasi ! #HappyEnjoyneering!

Sebuah Seni Menerapkan “Clean Code”

Ketika kamu memilih menjadi seorang programmer, saat itu pula berarti kamu siap mendedikasikan jiwa dan raga untuk menulis kode program selama sisa hidupmu. Kode program akan menjadi bagian terbesar yang mendominasi pikiranmu. Pagi, siang, maupun malam kamu akan menghabiskan waktumu bersama kode program. Biasanya, programmer harus melanjutkan kode program dari programmer lain. Sebuah keberuntungan, ketika kita menemukan kode yang jelas dan terstruktur. Sebaliknya, ketika program yang kita temui “kurang bersahabat”, tentu kita akan kesulitan dalam melanjutkan project tersebut. Menyusahkan bukan? Itulah sedikit alasan mengapa kita harus mengetahui sebuah seni menerapkan “Clean Code”. Bad Code VS Clean Code Setiap programmer memiliki ciri khas programnya masing-masing. Ada programmer yang suka menulis kode program dengan jelas. Namun, ada juga tipe programmer yang “penting jalan” tanpa memperhatikan bentuk penulisan kodenya. Kode program seperti inilah yang disebut dengan istilah bad code. Bad code ini akan menjadi nightmare bagi programmer yang akan melanjutkan kode program sebelumnya. Bad code akan sering ditemui atau bahkan diproduksi sendiri, apalagi ketika sudah mendekati deadline. Tipe menulis asal-asalan ini akan menjerumuskan kita pada  bugs yang meningkat. Tak jarang juga kita akan bingung sendiri melihat kode program buatan sendiri. Akhirnya banyak waktu yang akan terbuang untuk fixing bugs ini dan waktu akan makin molor. Kebalikan bad code disebut clean code. Sebagai seorang programmer baik junior ataupun experienced, cobalah untuk menjadi good programmer. Programmer harus bertanggungjawab atas kode yang ditulisnya. Clean code inilah bentuk pertanggungjawaban ini. Selain kode yang lebih jelas dan terarah, clean code juga mampu mengurangi produksi bugs dan mempercepat software development. Jadi, lebih pilih mana? Clean code akan sangat berguna untuk membut kode kita lebih readable. Potongan kode akan menjadi jelas dan lebih terbaca. Terlebih ketika mengerjakan project secara tim, clean code ini hukumnya menjadi “wajib ‘ain fardhu kifayah”. Percayalah, bad code akan membuat silaturahmi dengan programmer lain menjadi renggang! Seni Menulis Clean Code Ada 7 aturan paling umum untuk menulis clean code yang harus kita ketahui 1. Aturan Penamaan Kesalahan ini adalah kesalahan paling umum terjadi. Biasakan menulis nama variable, fungsi, maupun method secara jelas dan deskriptif. Penamaan ini harus memiliki arti yang sesuai dengan tujuan pembuatan. 2. Aturan komentar Seringkali kita mengabaikan pemberian komentar pada header program maupun awal fungsi/method. Padahal komentar ini adalah satu-satunya kompas saat kita harus melanjutkan project lama loh. Tuliskan komentar dengan jelas Setiap fungsi, method, ataupun variable harus secara spesifik bertanggungjawab atas satu pekerjaan. Hindari penggunaan nested structure atau maksimal memiliki dua level indent. Jika suatu fungsi dapat melakukan lebih dari satu pekerjaan, fixing bugs akan lebih sulit karena kita akan berhadapan dengan banyak step. Selain itu, usahakan satu fungsi maksimal hanya 3 parameter saja. 4. Readability Buat kode program menyenangkan untuk dibaca, bahkan untuk beginner programmer. Indentation, whitespace, dan line breaks adalah hal-hal yang harus diperhatikan agar kode program kita selalu terlihat rapi. 5. If Tuliskan percabangan pada if dengan jelas. Perhatikan contoh berikut Pada kolom bad code program (kanan) akan mengecek terus menerus walaupun kondisi sudah terpenuhi, sedangkan untuk clean code program (kiri) akan berhenti mengecek jika kondisi sudah dipenuhi. 6. Well-Organized Project Aturan keenam ini juga merupakan aturan yang tidak boleh terlewatkan. Selama proses pengembangan, kita seringkali menambahkan file ataupun folder ke project yang kita buat. Penataan file yang berantakan seringkali membuat programmer lain kebingungan dengan project kita. Well-Organized Project akan membuat semuanya menjadi jelas dan updating lebih mudah. 7. Hapus kode yang Tidak diperlukan Selama trial project, tentu kita menambahkan banyak kode untuk mencapai keberhasilan. Mungkin kita akan merasa “sayang” untuk menghapus sisa-sisa perang ini. Biasanya kita hanya akan meng-comment potongan kode ini. Jika hanya sekali dua kali masih tidak begitu terasa, namun bagaimana jika ternyata kita tidak sadar melakukan hal ini pada 300 kelas? Mengerikan bukan? Oleh karena itu, biasakan menghapus kode-kode tidak berguan ini ya. Tapi jangan sampai menghapus potongan kode ini membuat error ya.. Nah, itu dia Sebuah Seni Menerapkan “Clean Code”. Semoga setelah membaca ini kalian hijrah ke jalan yang benar yaa ! Mungkin Anda Juga Suka : Kuliah IT Tapi Gasuka Coding ? Ini Dia Pekerjaan Buat Kamu ! Baca Juga : Clean Code