Programmer’s Talk: Menjadi An Extraordinary Android Developer

Tak perlu naif, gaji adalah salah satu pertimbangan besar dalam menerima tawaran kerja. Sederhananya, saat kamu bekerja untuk sebuah perusahaan, perusahaan tak hanya membayar tenaga dan pikiran yang kamu curahkan, tetapi juga mimpi dan rencana lain yang sudah kamu kalahkan demi bekerja. Gaji yang besar, akan menjadi penanda mimpi kamu dibeli dengan harga tinggi. Salah satu pekerjaan dengan gaji sangat tinggi adalah mobile apps developer. Gaji tahunan seorang mobile apss developer adalah sebesar US$117.101 atau setara Rp 1,64 miliar. Akan tetapi, gaji ini juga sesuai dengan jatuh bangun dan tantangannya loh. Pada bagian pertama Programmer’s Talk kali ini, TASOfficial berkesempatan untuk chit chat dengan Yudistiro Septian Dewi Saputro. Saat ini, Yudis adalah Android Developer di perusahaan asuransi nasional Sinarmas MSIG Life. Sebelum sampai di level perusahaan besar itu, alumni STMIK AKAKOM Yogyakarta juga sempat mengalami perjuangan yang tidak mudah dan sempat kehilangan gaji karena menguap di dompet bos-nya loh. Yuk, bedah pengalamannya dalam Programmer’s Talk: Menjadi An Extraordinary Android Developer. Cus!

Android Developer Sinarmas MSIG
Sumber : Instagram

Dari Unity ke Android Studio

Yudis tidak langsung menemukan Android Programming sebagai bidang yang akan menjadi setengah jiwa-nya loh. Awalnya, pria asli Wonogiri ini tertarik pada pengembangan game (Game Development). Topik ini didapatkan saat masih menjadi mahasiswa. Dalam pengembangannya, Yudis menggunakan lingkungan pengembang (IDE – Integrated Development Environment) Unity. Sayangnya, IDE ini nampaknya tidak bersahabat. Spesifikasi laptop yang masih low-end membuat Yudis seringkali menemukan kendala saat proses render animasi.

Pada akhir 2016, Yudis mulai berkenalan dengan Android Studio. Pada masa itu, pengembangan aplikasi Android masih didominasi oleh bahasa Java. Dengan bantuan belajar penuh dari komunitasnya-RackSpira-, Yudis mulai merangkak dan belajar berjalan. Style penulisannya yang sederhana dan dinamis berhasil membuat Yudis berpindah ke lain hati teknologi. Dari yang awalnya hanya iseng, malah membuat Yudis makin penasaran dan tertantang untuk menekuni Android Development. Akhirnya, Android Development menjadi sumber penghasilannya sampai saat ini.

Tragedi Gaji Menguap

Bahkan, mie yang katanya instant saja masih butuh direbus untuk bisa dinikmati

Anak Kos, 2020

Rasanya, cuitan itu juga berlaku untuk kehidupan Yudis yang sekarang. Keberhasilan sekarang tak terlepas dari tragedi pahit 2017 silam. Saat itu, Yudis mendapat tawaran dari temannya untuk bekerja sama untuk sebuah software house Jogjakarta. Yudis berkesempatan untuk berkontribusi dalam pembuatan project yang proses bisnisnya hampir mirip dengan online ride hailing dengan hirarki MLM (Multi Level Marketing). Bisa belajar, sambil mencari uang jajan, pikir Yudis. Sebagai project besar pertama, tentu hal ini sangat menantang. Yudis mengerjakannya dengan penuh semangat, karena sense yang sedang naik-naiknya. Bulan pertama gaji belum cair-pun, tidak masalah. Sayangnya, setelah project selesai, bayaran yang menjadi angan musnah seketika. Bagaimana tidak? Yudis hanya mendapatkan 500ribu untuk 3 bulan kerja yang melelahkan. Semua rencana belanja langsung musnah!

Dinamis dan Adaptif, Itu Kuncinya

Sumber : Instagram

Dalam perjalannya 5 tahun (and still counting) sebagai Android Developer, teknologi dan framework pengembangan Android senantiasa berkembang. Yang sebelumnya menuliskan kode berlandaskan Java Native, kini mulai beralih menggunakan Kotlin dan Dart. Menguasai satu bahasa pemrograman saja, akan membuat kamu ketinggalan jaman. Perkembangan teknologi sangat cepat, kemampuan belajar dan menyesuaikan diri harus lebih cepat, atau setidaknya harus setara. Sifatnya yang senang belajar dan tidak mudah merasa puas, membuat Yudis sangat dinamis dan adaptif terhadap segala yang terjadi. Dalam belajar, beberapa platform belajar yang menjadi andalannya adalah Dicoding, Codelabs, dan beberapa artikel medium. Tak perlu merogoh kocek terlalu dalam, Yudis sering memanfaatkan beasiswa kursus belajar gratis dari Barekraf, dan perusahaan telekomunikasi.

Teori Tanpa Praktik itu Nol Besar, Praktik Tanpa Teori itu Tersesat

Seringkali, programmer langsung eksekusi pekerjaannya tanpa memperhatikan teori-teori pemrograman yang sebenarnya tak kalah penting. Keduanya saling berhubungan, dan harus berjalan bersamaan. Beberapa teori yang harus tergolong must have item adalah clean programming, teori algoritma, dan konsep object oriented programming. Namun, bukan berarti teori yang lain tidak penting yah! Tanpa teori yang matang, kode program tidak akan memenuhi standar. Hal ini akan menyebabkan kesulitan saat maintenace dan saat bekerjan secara tim, jelas Yudis

Dari Mencari Pekerjaan, Hingga Dicari Perusahaan

Sumber : Newman Pearson

Dalam perjalanan karirnya, Yudis beberapa kali mengalami penolakan oleh perusahaan loh. Tetapi hal ini tidak menyurutkan semangatnya dan menjadi cambukan untuk terus belajar. Dengan sifatnya yang tekun dan konsisten, akhirnya Yudis berhasil mendapatkan pekerjaan baik full-time maupun freelance. Bahkan, dengan skill seperti sekarang, beberapa kali Yudis harus menolak menerima tawaran bekerja untuk perusahaan nasional. Nikmati proses belajarnya, apa pun yang kita pelajari saat ini pasti penting di waktu dan tempat yang tepat di kemudian hari, katanya. Wah, keren ya!

Baca Juga : BAGAIMANA CARA KERJA NOON GIL DI DRAMA START-UP?

Nah, itulah sedikit cerita Programmer’s Talk: Menjadi An Extraordinary Android Developer. Semoga menjadi inspirasi pembaca ya!

Nantikan Programmer’s Talk minggu depan!

Semua punya waktu nya masing masing, jadi nikmati prosesnya

Yudis, Android Developer at Sinarmas MSIG Life

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *