Cara Membuat Google Play Developer Account

Google Play merupakan salah satu layanan Google yang dapat kamu manfaatkan untuk mempublikasikan aplikasi android yang telah kamu kembangkan. Sebagai seorang Android Developer, mendaftar sebagai Google Play Developer Account adalah salah satu hal yang tidak boleh kamu lewatkan. Selanjutnya, kamu dapat mendistribusikan aplikasimu ke seluruh dunia. Oh ya, perlu kamu tahu, untuk mendapatkan akun ini tidaklah gratis. Kamu perlu merogoh kocek sebesar USD $25. Nah, berikut adalah tutorial cara membuat Google Play Developer Account. Cekidot! Kunjungi Halaman Google Play Developer Langkah pertama, buka halaman google play developer melalui browser kamu. Kamu akan diarahkan pada halaman login aun Google. Masukkan email dan password akun yang ingin kamu gunakan sebagai akun Google Play Developer Account Isi Form Pendaftaran Google Play Developer Account Setelah login ke akun gmail, selanjutnya akan muncul formulir pendaftaran Google Play Developer Account. Oh ya, usia minimum untuk mendaftar akun ini adalah 18 tahun. Jadi, untuk kamu yang belum memenui standar usia minimal, urungkan niat baikmu. Simpan link artikel ini dan kembali lagi saat kamu sudah cukup umur ya. Jika kamu adalah bagian dari perusahaan, jangan pernah menggunakan email personal kamu untuk mendaftar akun Google Play Developer Account. Gunakan akun resmi milik perusahaan kamu. Kamu juga tidak perlu mendaftar lagi jika kamu memiliki anggota tim yang sudah memiliki akun developer. Kamu cukup meminta invitation dari administrator akun. Isikan data diri pada formulir pendaftaran. Data yang harus kamu masukkan adalah nama, secondary email, kontak yang dapat dihubungi, serta persetujuan syarat dan ketentuan. Selanjutnya klik Create Account and Pay Melakukan Pembayaran Selanjutnya kamu harus melunasi pembayaran sebesar USD $25 atau sekitar 350 ribu-an. Terdapat beberapa metode pembayaran yang dapat kamu pilih yakni MasterCard Visa American Express Discover (U.S. only) Visa Electron (Outside of the U.S. only) VCC harus kamu tulis secara manual. Selanjutnya masukkan nama pemegang kartu (sesuai KTP). Terakhir, masukkan alamat “Indonesia”. Selanjutnya klik pada tombol Pay Oh ya, pembayaran tidak dapat dilakukan dengan kartu prabayar. Pembayaran ini hanya sekali seumur hidup. Setelahnya kamu bebas mempublikasikan aplikasi android kamu. Lengkapi Detail Informasi Akun Setelah pembayaran terverifikasi, kamu harus melengkapi detail informasi akun developer. Developer Name akan ditampilkan pada customers pada Google Play. Sementara itu, format nomor telepon harus menggunakan format internasional. Sebagai warga +62, ubah angka 0 dengan +62. Isi informasi lain yang kamu butuhkan Lebih lanjut, dalam beberapa kasus kamu harus mengunggah kartu KTP atau SIM atau Passport untuk verifikasi akun pengguna. Pastikan kartu identitas ini masih berlaku dan dapat terbaca dengan baik. Kartu ini juga tidak boleh pernah terdaftar untuk akun developer lainnya. Verifikasi biasanya memakan waktu 1×24 jam. Apabil berhasil, kamu akan mendapatkan balasan melalui emal. Sedangkan, jika gagal kamu masih memiliki kesempatan sebanyak 1x lagi. Setelah berhasil, kamu akan memiliki akun google developer play account. Kini kamu memiliki akses login ke Google Play Console dan bebas mendistribukan aplikas yang kamu kembangkan.

Alasan Kenapa Kamu Harus Mematikan Smartphone Di Pesawat

Pesawat merupakan salah satu moda transportasi yang cukup populer. Selain waktu mobilisasi yang lebih cepat, pesawat juga memiliki tingkat kecelakaan yang lebih kecil dari moda transportasi darat. Namun, moda transportasi ini juga memiliki aturan dan larangan yang ketat. Aturan ini diberlakukan untuk memastikan keamanan, keselamatan serta kenyamanan para penumpang dan kru yang bertugas. Salah satu aturan ‘spesial‘ saat menaiki pesawat adalah larangan menggunakan smartphone dan perangkat lain, seperti laptop saat berada dalam pesawat. Untuk kamu yang penasaran, TASOfficial telah merangkum alasan kenapa kamu harus mematikan smartphone di pesawat. Check This Out! Smartphone akan berusaha mencari sinyal dari tower yang berjarak 50mil dari perangkat. Ponsel yang menyala dapat memantulkan sinyal dari beberapa menara operator seluler yang pesawat lintasi, sehingga mampu mengirimkan sinyal yang jauh lebih kuat. Hal ini merupakan salah satu hal yang dapat mempengaruhi keselamatan awak dan para penumpang pesawat. Tak hanya itu, peneliti menemukan fakta bahwa emisi elektromagnetik dari perangkat elektronik pribadi seperi smarphone dan laptop dapat mengganggu sistem pesawat. Secara khusus, yang berada di kisaran 800-900 MHz dapat mengganggu instrumentasi kokpit tanpa pelindung. Salah satu sinyal yang terkenal sangat mengganggu sistem elektronik lainnya adalah GSM (2G). Kamu pernah kan mengalami dengungan pada stereo atau speakerphone saat kamu melakukan panggilan telepon di dekat perangkat lainnya? Nah gangguan ini akan mudah ditangkap oleh sistem navigasi pesawat yang sensitif. Selain itu, penggunaan telefon juga dapat menimbulkan suara bising berupa buzzting. Pilot dapat mendengar bunyi buzzing yang kurang lebih terdengar seperti, “bzzzzztt…..bzzztt……..bzzzzzttt” dalam headphonesnya. Bunyi tersebut dapat mengganggu komunikasi pilot dengan air traffic control, di mana jika komunikasi dengan pengatur lalu lintas di udara tidak terlaksana dengan baik, akibatnya bisa fatal. Aturan Yang Terus Berubah Sampai saat ini, aturan mengenai kewajiban mematikan smartphone terus berkembang. Hal ini seiring dengan teknologi dalam pesawat yang makin berkembang pula. Federal Aviation Authority (FAA) menyatakan bahwa pengaktifan mode pesawat pada gadget selama penerbangan sudah cukup aman. Beberapa tahun lalu, organisasi tersebut menyatakan bahwa penumpang kini tidak perlu lagi mematikan smartphone, tablet, dalam penerbangan, asal mengaktifkan mode pesawat selama take off dan landing. Meskipun demikian, kamu harus tetap mengecek kembali peraturan penerbangan yang berbeda pada setiap negara. Bayangkan saat di pesawat, kamu diteriaki “Switch Off Your Cell Phone!” oleh flight attendant. Malu sekali kan? Baca Juga : PROGRAMMER’S TALK: MENJADI AN EXTRAORDINARY ANDROID DEVELOPER Nah, itulah Alasan Kenapa Kamu Harus Mematikan Smartphone Di Pesawat. Tetap patuhi aturan yang berlaku ya!

Programmer’s Talk : Apa Enaknya Menjadi Tech Lead?

Pernahkah kamu mendengar istilah Tech Lead? Umumnya, tidak semua perusahaan memiliki jabatan ini. Meskipun demikian, posisi Tech Lead sangat krusial dalam menentukan jalannya sebuah project dalam perusahaan. TechLead berperan penting dalam mengelola tim developer dan engineering. Jika kamu memiliki ketertarikan dalam bidang programming, dan jiwa kepemimpinan yang tinggi, bisa jadi kamu berjodoh dengan pekerjaan satu ini. Programmer’s Talk kali ini akan membahas jangkauan dan suka duka menjadi seorang Tech lead dalam episode Programmer’s Talk : Apa Enaknya Menjadi Tech Lead? Check this out! Harus Bisa Jadi Leader Sekaligus Teman Tech Lead adalah seseorang yang bertanggungjawab untuk memimpin sebuah tim dan menyamakan arah tujuan sebuah project. Seorang tech lead harus memiliki kemampuan komunikasi yang baik untuk menjamin setiap bagian dari tim berjalan sesuai dengan goals di awal. Pekerjaan ini juga akan menuntut kamu untuk selektif dan teliti dalam menganalisa kualitas pekerjaan tim secara teknis. Selain menjadi leader, bekerja sebagai tech lead kamu juga harus dapat merangkul seluruh bagian tim. Kamu harus sigap apabila terjadi gesekan dalam tim. Kamu juga harus menjadi jembatan antara tim produksi (programmer dan engineering) dengan PM. Techlead harus menyediakan win-win solution bagi kedua divisi ini. Pastikan permintaan PM tidak membuat permintaan yang “ngadi-ngadi” dan mampu dihandle oleh para programmer dan engineering. Kamu juga harus siap menjawab pertanyaan “ini gimana?” berkali-kali dari anggota tim kamu. Termasuk mendengarkan segala per-sambat-an duniawi dari mereka. Kamu dituntut menjadi pendengar sekaligus problem solver yang cakap bagi anggota tim kamu. Saat Programmer dan PM Berseteru Kamu pasti membayangkan menjadi Tech Lead sangat menyenangkan. Kamu cukup meminta programmer menjalankan tugasnya dan viola, project selesai. Client puas, bonuspun berlimpah. Sayangnya, hidup tidak sebaik itu. Seringkali PM meminta candi prambanan, sedangkan kemampuan programmer hanya sekelas gapura kecamatan. Hal ini akan menimbulkan misleading dan membuat pemilik project kecewa. Disinilah tantangan hidup dan mati seorang TechLead dimulai. Tech Lead harus memastikan segala aspek teknis yang diminta PM (ataupun client) mampu dikerjakan oleh tim. Prinsipnya, needs meet skill. Segala aspek teknis mengenai project yang akan berjalan tidak boleh merugikan tim produksi maupun PM. Tapi apakah menolak keinginan saja cukup? Tentu tidak. Kamu harus menyediakan possible alternatives yang paling menguntungkan. Kamu juga harus memastikan untuk memberikan arahan dan cara kerja tidak membuat salah satu divisi merasa tidak di-“sayang“. Jadi pastikan kamu mengenal seluruh bagian dari tim kamu, sebelum meng-iya-kan apa yang diminta oleh PM. Saat Anggota Tim Tidak Mau Di-Lead Seorang leader pasti tidak jauh-jauh dari konflik internal. Tak hanya antar anggota tim, namun permasalahan antara kamu dengan anggota tim bisa saja muncul. Menyatukan pemikiran antara dua orang dengan sifat dan pola pikir yang berbeda bukan perkara yang mudah. Terkadang kamu akan bertemu dengan anggota tim yang keras kepala dan seenaknya sendiri. Kamu harus pintar-pintar menempatkan diri dan mencoba mendekati anggota tim yang ‘spesial‘ ini. Pastikan kamu ngobrol dari hati ke hati untuk dapat meng-handle anggota ini. Kamu harus mengusahakan yang terbaik untuk kamu dan si dia. Namun, jika tidak juga menemukan titik temu dan masih saja keras kepala bagaimana? Singkat saja, amputate. Lebih baik kehilangan satu orang, daripada semua tim, kan? Tapi kalau semua anggota tim tidak mau di-lead gimana dong? Ya berarti kamu yang harus di-amputate! Berat ya, tapi itulah tantangan terbesar menjadi seorang Tech Lead, ability to manage team is a must Jadi Tech Lead itu Harus … Idealnya, untuk menjadi seorang Tech Lead kamu harus memiliki jiwa kepemimpinan yang tinggi. Bekerja sebagai seorang lead tentu berbeda ketika bekerja sendiri. Dalam sebuah tim yang memiliki banyak kepala tentunya akan memiliki banyak perbedaan ide, pengalaman berorganisasi, dan juga karakter. Seorang tech lead perlu memiliki pembekalan tersendiri menghadapi atmosfer dalam sebuah kerja sama tim untuk mencapai target bersama. Perencanaan yang dilakukan oleh seorang tech lead dalam mengarahkan timnya akan sangat menentukan bagaimana goals akan tercapai. Inilah pentingnya program leadership yang perlu diajarkan sejak awal. Memiliki jiwa kepemimpinan tinggi saja tidak cukup. Kamu harus menjadi seorang problem solver bagi tim yang kamu pimpin. Cara pemecahan masalah yang gagal akan membuat project berantakan. Selain itu kamu juga harus memiliki kemampuan manajemen tim dan komunikasi yang baik. Apakah Seorang Tech Lead Harus Memiliki Backgound Sebagai Programmer? Absolutely! To be a leader, you must be a part of the team. Itulah kenapa harus kamu memiliki skill pemrograman sebelum menjadi tech lead. Kamu tidak hanya harus memecahkan masalah kodingan-mu sendiri, namun juga kodingan orang lain. Jadi, setelah membaca artikel “Programmer’s Talk : Apa Enaknya Menjadi Tech Lead?” apakah kamu makin tertantang menjadi tech lead atau justru mentally break down? Catatan :Artikel ini ditulisan berdasarkan pengalaman seorang Tech Lead di salah perusahaan chatbot Jakarta. Beberapa perusahaan mungkin memiliki culture dan cara kerja yang berbeda. “You manage things, you lead people” – Grace Hopper Baca Juga : TREND BAHASA PEMROGRAMAN TAHUN 2021 TERBAIK