React Native VS Ionic Kamu Pilih Mana?

React Native VS Ionic Mana yang lebih baik? – Hai Sobat tekno!. Kemarin kita membahas mengenai Node JS dan Golang lebih baik mana?. Kali ini kita akan membahas mengenai dua pilihan terbaik di kelas cross platform. Seperti yang diketahui, keduanya merupakan Library Javascript yang digunakan untuk pembuatan aplikasi. Baik Ionic maupun React merupakan pilihan yang terbaik untuk pengembangan aplikasi. Namun dari keduanya ada beberapa perbedaan yang cukup penting. Kami merangkum detail detail perbedaan yang dimiliki oleh keduanya.

Popularitas React VS Ionic

Sebelum masuk ke hal yang detail, kita lihat terlebih dahulu tingkat kepopularitasan kedua turunan javascript ini.

Menurut AppBrain, React Native sudah membuat sebanyak lebih dari 32 ribu aplikasi. Untuk Ionic sendiri ada 26 ribu aplikasi. 

Menurut Survey Developer Stack Overflow 2021, React native merupakan teknologi paling populer ke 6 di dunia dengan market share sebanyak 14,51%. Untuk Ionic sayang nya belum bisa mendekati market share sebanyak React.

Menurut Statista, React Native merupakan cross platform mobile framework ter populer ke 2 dengan market share 38%. Sementara Ionic terpopuler nomor 4 dengan market share 16%.

Menurut GitHub, React Native memiliki 102 ribu bintang dan 22 ribu garpu, sedang Ionic memiliki 47 ribu bintang dan 13,7 ribu garpu.

Komunitas (Development)

Dari ke popularitas diatas, React Native tentu memiliki komunitas yang sangat besar jika dibandingkan dengan Ionic. Jika kamu merasa kesulitan dalam mengembangkan React, kamu bisa lempar pertanyaan di komunitas, pasti respon nya akan lebih banyak.

Untuk Development di Ionic, instalasi lebih mudah dengan melakukan command npm untuk menginstal Cordova. Kemudian ionic juga memiliki Ionic Academy sendiri yang menyediakan kursus untuk metode pembelajaran step by step. Sedangkan untuk React, kamu harus terbiasa dengan CSS, kemudian kamu juga harus mempelajari Axios untuk memanggil API, Redux with React, Flexbox, ES6 dan lain sebagainya.

Struktur React VS Ionic

React Native

Ionic

Performance

Akhirnya kita membahas mengenai performa. Dengan tuntutan industri sekarang ini, kita juga harus mengevaluasi kinerja nya. Karena produk akhir kita berkaitan dengan penggunaan framework ini.

React Native memungkinkan untuk pengembang aplikasi yang memiliki tampilan dan pengalaman seperti aplikasi pada umumnya dengan menggunakan komponen-komponen beserta API. Di sisi lain, Ionic menggunakan teknologi berbasis Web untuk pembuatan aplikasi hybrid dengan menggunakan pihak ketiga.

Fitur

Hot Reload yang dimiliki React Native banyak disukai oleh para developer, karena kamu bisa debugging secara realtime saat kamu sedang memperbarui codingan mu. Sedangkan Ionic memiliki banyak developer karena suka dengan dokumentasi nya yang lebih jelas dibandingkan dengan React.

Testing

Berbanding terbalik dengan bab fitur, Ionic lebih fleksibel dan bisa dilakukan pengujian melalui browser yang ada seperti chrome, opera, edge dan lain lain, sedangkan untuk untuk kompetitor nya, kamu bisa secara langsung melakukan testing, namun kamu akan membutuhkan perangkat tambahan seperti emulator.

Kenapa Javascript Hal Wajib bagi Developer?

Kenapa Javascript Hal Wajib bagi Developer? – Hai Sobat Tekno! Bagi kamu seorang developer, pastinya tidak asing dong dengan bahasa pemrograman yang bernama javascript?. Begitu banyaknya hal yang bisa kamu buat dengan bahasa ini seperti membuat website, aplikasi desktop, aplikasi mobile sampai pembuatan  game.

Dipakai Perusahaan Top Global

Umumnya, penggunaan JavaScript ini banyak digunakan untuk membuat website agar lebih interaktif. Kelebihan ini, dimanfaatkan oleh banyak perusahaan papan atas seperti Facebook, Google, Linkedin dan lain lain untuk mempercantik website nya. 

Yuk, kita kenalan dulu dengan Javascript.

Apa itu Javascript?

Javascript merupakan bahasa pemrograman yang dikembangkan oleh Brandan Eich. Bahasa ini di launching pada tahun 1995.

Jika kamu membuat website menggunakan HTML dan CSS, kamu perlu penggunaan Javascript untuk meningkatkan fungsionalitas website. Hal ini diibaratkan seperti nyawa nya, sehingga website kamu akan lebih hidup dan berfungsi dengan semestinya. 

Fungsi Javascript

Nah, sekarang kita list yuk, apa saja fungsi dari Javascript untuk membantu kamu bekerja di dunia pemrograman.

1. Website Menarik dan Interaktif

Salah satu keunggulan Javascript untuk membuat website yang menarik adalah karena user experience yang diberikan. Tak cukup menggunakan HTML dan CSS, kamu perlu memasukkan Javascript untuk membuat visualisasi seperti animasi, sehingga user mendapatkan pengalaman yang menyenangkan ketika mengunjungi website kamu

2. Efisiensi Web Developer

Framework Frontend yang merupakan turunan dari seperti Node JS, React JS maupun Vue JS sangat berguna untuk efisiensi pembuatan website, dengan menggunakan Framework tersebut, kamu hanya perlu memanggil nya dan tidak perlu menulis kode dari nol.

Dalam implementasinya, developer dapat memanggil komponen sebelumnya, sehingga kamu tidak perlu membuat tampilan UI dari awal. Dari segi Backend seperti Node JS, memiliki kelebihan yang dapat mengurangi respon time pada server,karena mempunyai sifat single thread dan memiliki arsitektur yang bersifat non blocking.

3. Web Server

Jika kamu ingin membangun web server atau membangun backend sebuah website atau mobile apps, kamu bisa memanfaatkan Javascript. Contohnya adalah Node JS, dimana Node JS ini merupakan salah satu Framework yang banyak digunakan perusahaan Top Global seperti Linkedin, Netflix, Paypal bahkan sekelas NASA.

Web Server sangat bergantung dengan infrastuktur Backend. Sehingga ketika Backend kita sudah Efisien, maka akan menghemat waktu dalam impllementasinya.

4. Game Berbasis Web

Kamu tahu Flappy Bird? Flappy Bird merupakan game browser yang dikembangkan menggunakan HTML dan Javascript. Penggunaan nya menggunakan Playground JS Quintus, dan lain lain.

5. Aplikasi Desktop

Proton Native merupakan Framework dasar yang dipakai untuk mengembangkan Aplikasi Desktop. Dengan Framework ini kamu bisa membuat berbagai macam kode di Sistem Operasi yang berbeda. 

6. Aplikasi Mobile

Selain bisa untuk pengembangan aplikasi Desktop, Bahasa ini juga kuat dalam pengembangan aplikasi mobile. Eksekusinya developer cukup membuat satu kode saja untuk membuild aplikasi ke Android maupun IOS.

Yang biasa digunakan adalah React Native, Cordova dan Titanium. Dibandingkan dengan Kotlin dan Swift yang hanya digunakan untuk mengembangkan salah satu sistem operasi seperti android dan IOS saja, React bisa diaplikasikan untuk keduanya dengan sekali tulis.

Baca juga artikel kami mengenai Pengertian Lengkap Programming Language dan Contohnya.

Mengenal UI/UX Designer Lebih Luas

Mengenal UI/UX Designer Lebih Luas – Hai, Sobat Tekno.

Mungkin kalian sudah pernah mendengar apa itu UI/UX. UI atau singkatan dari User Interface dan UX singkatan dari User Experience. Keduanya memiliki peran yang saling berhubungan dalam suatu proyek pengembangan web maupun aplikasi mobile.

Jadi dalam mengembangkan suatu proyek aplikasi tidak bisa hanya mengandalkan programmer saja, melainkan harus melibatkan tim yang normalnya terdiri dari programmer dan UI/UX Designer.

Sebelum pembahasan lebih jauh, ada baiknya kita mengetahui apa itu user interface dan user experience. Untuk selengkapnya kalian bisa simak penjelasan berikut untuk mengenal UI/UX Designer.

Pengertian UI/UX Designer

UI Designer merupakan sebutan untuk orang yang mendesain interface untuk perangkat lunak komputer, ponsel pintar, dan lainnya. Sedangkan UX Designer bertugas untuk membuat aplikasi atau situs yang mudah digunakan oleh pengguna, dan terlihat keren, bagus, namun simple.

Tugas Dari Desainer UI/UX

UI Designer

Berikut adalah beberapa tugas dari UI Designer

  • Melakukan analisis kompetitif pada tampilan & nuansa produk.
  • Membuat dan mempertahankan panduan gaya.
  • Membuat desain visual, seperti tipografi, tombol, color palette.
  • Merancang interactive design, seperti animasi, interaktivitas, prototipe.
  • Menerapkan branding kohesif di seluruh elemen desain.
  • Front-end development.

UX Designer

Berikut adalah beberapa tugas dari UX Designer

  • Melakukan riset pengguna.
  • Menciptakan persona dan arsitektur informasi.
  • Mengembangkan user flows dan wireframe.
  • Membuat prototipe dan menjalankan beberapa tes pengguna.
  • Beberapa bisa terlibat dalam desain visual produk dan berkoordinasi dengan developer.

Skill Yang Dibutuhkan Untuk Menjadi Seorang UI/UX Designer

  • Self Improvement skill, yaitu kemampuan untuk mencari tahu lebih dalam dan mau belajar
  • Problem Solving skill, kemampuan untuk mengidentifikasi masalah serta harus bisa menemukan solusinya
  • Design Process, ini lebih ke cara berpikir atau pola untuk menyelesaikan masalah tadi.
  • Visual Design, suatu rancangan yang membantu untuk menyampaikan pesan ke user biasanya mengarah ke (Typography, Color, Layout, Illustration, UI elements)
  • Information Architecture, kemampuan menyusun suatu informasi agar mudah dipahami oleh user
  • Basic Copywriting, berfungsi untuk memperjelas context agar user tidak kebingungan

Peran dan Tanggung Jawab Seorang UI/UX Designer

  • Menciptakan desain yang berpusat pada pengguna dengan memahami persyaratan dan kebutuhan bisnis, serta umpan balik yang pengguna berikan.
  • Merancang user flows, wireframes, prototypes, dan mockups.
  • Menunjukan persyaratan ke dalam style guides, sistem dan pola desain, serta interface yang menarik dan nyaman. 
  • Merancang elemen, seperti input controls, navigasi, dan komponen informasi lainnya. 
  • Membuat desain grafis yang original. 
  • Mengidentifikasi dan memecahkan masalah terkait pengalaman pengguna.
  • Bekerja secara kolaboratif dengan tim produksi, developer, dan manajemen. 
  • Mengevaluasi feedback pengguna, metrik penggunaan, serta usability finding ke dalam hasil desain untuk meningkatkan pengalaman pengguna.  

Jadi bagaimana? Apakah kamu berminat menjadi seorang UI/UX Designer? Jika berminat, jangan lupa terus belajar dan mengasah kemampuanmu dalam lingkup desain ya. Semangat!

Pentingnya Blockchain Bagi Programmer

Pentingnya Blockchain Bagi Programmer – Hai, Sobat Tekno, apakah kalian tahu apa itu blockchain? Blockchain adalah sistem penyimpanan data digital berisikan catatan yang terhubung melalui kriptografi. Saat ini teknologi blockchain sudah banyak dimanfaatkan oleh berbagai sektor, salah satunya untuk transaksi mata uang kripto seperti bitcoin.

Mungkin beberapa dari kalian sudah ada yang paham tentang blockchain atau hanya sekedar tahu kulit luarnya saja. Tapi untuk saat ini memanglah sangat penting untuk mulai belajar tentang blockchain, terutama untuk para programmer. Apa sih pentingnya programmer untuk mempelajari blockchain? Untuk selengkapnya, kalian bisa simak penjelasan berikut.

Pentingnya Blockchain Bagi Programmer

Blockchain Memiliki Mekanisme Native Untuk Menyimpan dan Mengirimkan Data Berharga

Sebelum teknologi blockchain berkembang, banyak programmer yang membuat aplikasi yang masih tergantung dengan pemilik data, seperti sosial media, search engine, serta ecommerce besar.

Hal tersebut dikarenakan protocol HTTP tidak dapat menyimpan data atau yang sering disebut dengan stateless protocol. Ketergantungan dengan pemilik data akan memiliki dampak aplikasi yang tidak sesuai peraturan dapat menimbulkan kerugian bagi developer. Itu dapat terjadi karena data bisa kapan saja dimatikan oleh pemilik platform.

Maka dengan adanya teknologi blockchain yang memiliki mekanisme native untuk menyimpan dan mengirimkan data berharga, maka developer tidak akan lagi bergantung pada pemilik platform untuk membuat aplikasi.

Blockchain Merupakan Inovasi Yang Sangat Fundamental di Level Protocol

Teknologi blockchain memang bukanlah sebuah inovasi bisnis model, namun teknologi blockchain merupakan inovasi yang sangat fundamental di level protocol yang nantinya akan memungkinkan tercipta banyak bisnis model baru.

Merupakan Bagian Dari Revolusi Industri 4.0

Menurut fcanos.com beberapa karakter revolusi industri ke 4 adalah tidak ada batas geografis, cost saving, tidak ada intermediary, service yang aman, dan programmable money. Karakter ini semua ada pada teknologi blockchain.

Adopsi Blockchain Yang Masih Di Tahap Sangat Awal

Berbagai bank di setiap negara sudah mulai mempelajari tentang teknologi blockchain, yang memungkinkan akan dapat mengaplikasikannya ke dalam sistem bank mereka. Beberapa negara mulai memikirkan zona pilot blockchain, misalnya Busan di Korea, Batam di Indonesia.

Lapangan Pekerjaan Programmer Blockchain di Masa Depan

Pada tahun 2018 Linkedin melaporkan adanya kenaikan kebutuhan posisi blockchain developer sebanyak 33 kali lipat. Dengan meningkatnya adopsi blockchain di berbagai sektor, seperti finansial, public service, otomotif, dan semua industri lainnya, bagaimana kira-kira demand terhadap programmer blockchain? Kedepannya pasti akan banyak perusahaan yang akan mencari programmer blockchain.

Itulah pentingnya Blockchain bagi programmer. Jadi tunggu apa lagi, mulailah untuk mempelajari teknologi blockchain. Untuk mempelajarinya kalian bisa mempelajari melalui Web Belajar Vexanium di sini.

Apa Itu Domain Beserta Fungsinya

Apa Itu Domain Beserta Fungsinya

Hai Sobat Tekno, kamu tau gak sih apa itu domain? Atau mungkin sudah pernah mendengar kata tersebut tapi belum mengetahui artinya bahkan kegunaannya. 

Nah, kamu beruntung sudah menemukan blog ini, karena pada artikel kali ini akan membahas tentang domain secara cukup luas. Di sini akan membahas pengertian dari domain serta fungsinya.

Ketika kamu ingin menjelajahi situs, kamu diharuskan untuk memasukkan alamat situs, misalnya ”www.teknosejahtera.com”. Secara singkat alamat itulah yang disebut sebagai domain dalam internet. Untuk lebih lengkapnya, kamu bisa simak penjelasannya di bawah ini.

Pengertian Domain

Domain adalah sebuah tempat, rumah, atau lokasi dari website dan hanya pemiliknya yang berhak untuk mengelola. Jadi untuk menuju ke tempat atau domain website itu, tentulah membutuhkan suatu alamat.

Nama domain terdiri dari dua elemen utama, yaitu nama website dan ekstensi. Contohnya, Instagram.com yang memuat nama website (Instagram) dengan ekstensi (.com).

Fungsi Domain

Domain berfungsi sebagai alat identifikasi sebuah website. Pada dasarnya, website disimpan di sebuah web server. Ketika kamu mengetikkan nama domain, disitu akan ada proses untuk mencari data website di web server tujuan sesuai dengan identitas alamat IP-nya.

Tentu bakal merepotkan apabila harus memasukkan alamat IP untuk mengakses website. Pengguna harus hafal susunan angka dari alamat IP dari sebuah server yang membuat website tersebut.

Selain untuk mempermudah dalam mengakses sebuah website, fungsi lain domain adalah sebagai identitas dari sebuah server website. Identitas tersebut digunakan agar pengguna tidak salah alamat saat mengunjunginya. Nama domain antar website selalu memiliki perbedaan. Selanjutnya akan dibahas tentang jenis-jenis domain.

Jenis-Jenis Domain

Kita sering melihat sebuah website dengan domain yang umum seperti (.com), (.co.id), serta (.org). Namun apakah kamu tau, domain juga memiliki jenis-jenis lainnya. Untuk penjelasan lebih lengkapnya ada di bawah.

TLD (Top Level Domain)

Top Level Domain atau yang biasa disingkat dengan TLD biasanya berfungsi sebagai identitas dari sebuah website yang biasanya terkait dengan asal negara. TLD yang sering kita jumpai mungkin (.com). Selain itu ada beberapa macam ekstensi domain lainnya yang dapat digunakan sebagai identitas sebuah website.

ccTLD (Country Code Top Level Domain)

Ekstensi ccTLD hanya menggunakan dua huruf saja sesuai dengan kode negara internasional. Misalnya Indonesia, maka menggunakan (.id), Amerika Serikat menggunakan (.us).

Pengguna ccTLD biasanya adalah perusahaan yang membuat situs khusus bagi wilayah-wilayah tertentu. Misalnya ada perusahaan yang memiliki cabang di berbagai negara, maka perusahaan tersebut akan membuat konten dan ekstensi sesuai dengan dengan negara tersebut.

gTLD (Generic Top Level Domain)

Generic Top Level Domain adalah ekstensi domain yang biasa dipakai secara umum, seperti (.com) untuk komersial, (.org) untuk organisasi, (.edu) untuk pendidikan.

SLD (Second Level Domain)

Second Level Domain mengutip dari laman Kompas.com “Second Level Domain atau SLD merupakan nama domain yang terletak di antara subdomain dan ekstensi domain. Misalnya, dalam domain “www.kompas.com” yang menjadi nama domain-nya adalah “kompas”. 

Pengguna bisa membuat nama domain secara bebas, selama belum digunakan oleh orang lain. Nama domain ini berkaitan dengan TLD. Misal nama domain website untuk perguruan tinggi di Indonesia, kebanyakan diakhiri dengan TLD “.ac.id”

Sub Domain

Sub Domain biasanya digunakan untuk membuat bagian terpisah dari website, seperti support.google.com atau developers.facebook.com untuk para developer web mencari informasi yang memanfaatkan API.

Itulah beberapa penjelasan tentang domain serta fungsi dan jenisnya. Semoga dengan adanya artikel ini dapat menambah wawasan kamu tentang domain. Sampai jumpa di artikel selanjutnya.

5 Rekomendasi Framework JS Untuk Membangun Front-End

Front-End merupakan bagian dari suatu website yang bertugas untuk menampilkan data kepada user. Front-end akan membuat interaksi dengan user melalui tampilan, klik, ataupun swipe. Saat ini, pengembangan front-end lebih mudah dengan bantuan framework. Framework akan memberikan kemudahan pengembangan serta meningkatkan efisiensi waktu. Kali ini, TAS Official akan memberikan 5 rekomendasi framework JS untuk membangun Front-End. Apa saja ?

Angular

Sumber : Search Engine Journal

Angular merupakan framework dengan arsitektur MVC (Model, View, Controller) yang biasa digunakan untuk mengembangkan suatu SPA (Single Page Application. Saat ini, angular diklaim menjadi framework yang paling efisien, kuat, sekaligus open-source. Awalnya, Angular 1.0 menggunakan basis bahasa javascript, namu pada versi lebih baru Angular memilih untuk mengadopsi Typescript. Angular juga bersifat cross platform. Beberapa perusahaan besar yang menggunakan framework Angular adalah Google, Microsoft, dan Paypal 

React

Sumber : Erasmus Life Budapest

Facebook menciptakan React pada 2013 dan meraih popularitasnya dalam waktu singkat. React adalah framework pertama yang mengadopsi arsitektur component-based, yang kemudian framework lain seperti Angular dan Vue mengikutinya. Framework ini sangat cocok untuk web yang memiliki traffic tinggi. React memiliki virtual DOM yang akan merepresentasikan UI pada aplikasi. Beberapa fitur andalan React adalah Declarative, Virtual DOM, JSX, Event Handling, React Native, Component-Based, hingga Performance. Beberapa aplikasi yang menggunakan React adalah Facebook dan Instagram

Vue

Sumber : Client Resources, Inc

Vue merupakan framework termuda yang muncul pada 2016 lalu. Awalnya Vue muncul karena adanya bug pada Angular yang cukup membahayakan website. Framework ini terus berkembang hingga sekarang. Salah satu keunggulan vue adalah sifatnya yang progressif. Artinya, jika kamu memiliki sebuah project besar, kamu bisa menggunakan Vue hanya untuk secuil project kamu dan project ini akan dapat terus berjalan sebagaimana mestinya. Framework ini sangat baik untuk pembuatan high-end SPA atau Single Page Application. 

Ember

Sumber : Fire Bull Design Studio

Eits, ini bukan ember yang biasa kamu gunakan untuk menampung air ya. Ember yang ini beda. Ember adalah framework Javascript yang mengadopsi arsitektur Model View Controller. Framework ini muncul pada 2015. Sampai saat ini, Ember memiliki komunitas yang besar dan terus berkembang dari tahun ke tahun. Ember memiliki kemampuan untuk melakukan data binding secara dua arah. Framework ini juga memiliki berbaai plugin yang siap membantu kamu dalam mengembangkan aplikasi. Meskipun tidak se-populer ketiga framework sebelumnya, performa Ember tidak perlu kamu ragukan lagi. Selain itu, beberapa perusahaan seperti Google, Microsoft, Heroku, dan Netflix juga sering menggunakan framework ini

Backbone

Sumber : Start Up Rocket

Backbone adalah framework front-end JS yang tidak boleh kamu lewatkan begitu saja. Fitur adalan framework ini adalah RESTful JSON, yang memungkinkan kamu mencampur banyak bahasa pemrograman. Backbone memiliki arsitektur yang disebut dengan MVP atau Model View Presenter. Dengan arsitktur ini, alur website akan lebih aman dan terstruktur. Backbone juga memiliki aturan penulisan yang sederhana sehingga cocok untuk pemula. 

Nah, itulah 5 rekomendasi framework JS untuk membangun Front-End. Kamu tertarik yang mana?

Menilik Fitur Anyar Pada Vue 3, Apa Saja?

Vue JS adalah salah satu framework Javascript yang berguna untuk membuat front end. Vue JS atau selanjutnya disebut Vue, adalah framework yang berguna untuk membuat user interface dan single-page application (SPA). Framework ini bersifat open source sehingga dapat kamu gunakan secara bebas. Pada arsitektur MVC (Model-View-Controller), Vue JS akan mengambil peran pada View nya saja. Pada 18 September lalu, Vue JS secara resmi merilis Vue 3. Buat kamu pengguna setia Vue, atau bahkan baru saja menyelamu Vue, artikel ini akan mengajak kamu menilik fitur anyar pada Vue 3, apa saja ya?

Composition API Menggunakan Hooks

Sumber : Dan Vega

Salah satu fitur andalan Vue JS adalah composition API. Pada Vue 3, kamu tidak perlu lagi menginstall Composition API dan dapat langsung kamu gunakan di luar box tanpa pengaturan tambahan. Terinspirasi dari React Hooks, fitur baru ini memungkinkan penulisan komponen dalam mode function based. Kamu dapat mengenkapsulasi logika program dalam composition functions dan menggunakannya kembali pada objek-objek yang kamu miliki.

Namun, jika kamu masih menggunakan Vue versi 2 kamu tidak perlu khawatir. Vue 3 masih 100% mendukung option-based API.

Secara garis besar, terdapat dua keuntungan function-based API yakni :
1. Pengorganisasian kode yang lebih baik
2. Resharing / reusable code lebih maksimal

Dukungan <Template> Untuk Multiple Root Elements

Sumber : Stack Over Flow

Perubahan lainnya adalah adanya multiple roots element. Pada Vue 2, <template> hanya mendukung one root element. Misal kamu memiliki dua tag <p>, kamu harus membungkus tag ini dalam sebuah <div> agar dapat bekerja sebagai mana mestinya. Kamu juga harus mendefinisikan CSS agar tampilan sesuai dengan harapan kamu.

Sementara itu, pada Vue 3 kamu dapat langsung sejumlah tags langsung dalam tag <template>. Sebagai contoh, kamu dapat memasukkan tag <p> langsung dalama <template>

<template>
  <p> Count: {{ count }} </p>
  <button @click="increment"> Increment </button>
  <button @click="decrement"> Decrement</button>
</template>

Suspense

Go async in Vue 3 with Suspense
Sumber : Morioh

Suspense adalah fitur baru pada Vue 3 yang akan me-render komponen default maupun fallback sampai komponen utama berhasil melakukan fetch data. Cara kerja suspense mirip dengan async operations saat fetch data dari server. Kamu tidak perlu lagi mendefinisikan v-if kemudian mengembalikannya. Fitur ini akan langsung melakukannya untuk kamu.

Fitur Baru Lainnya

Vue.js 3: Future-Oriented Programming | by Taras Batenkov | Bits and Pieces
Sumber : Bit dan Pieces

Vue 3 juga memiliki beberapa fitur baru lainnya, yakni
1. Multiple v-models
2. Reaktivitas yang lebih baik
3. Global mounting
4. Native portal (sekarang disebut Teleport)
5. Update pada Virtual DOM dan TypeScript

Dan masih banyak lagi.

Nah, itulah beberapa Fitur Anyar Pada Vue 3. Sudah siap beralih?

Membuat Tampilan HTML Tanpa Kode? Bisa Dong!

Membuat HTML Tanpa Code
Sumber : Dokumen Pribadi

Website adalah sesuatu yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan sehari hari. Website telah masuk hampir ke seluruh sektor kehidupan, seperti ekonomi, pariwisata, hiburan, hingga Pendidikan. Per-Januari 2019, jumlah website aktif mencapai angka 1,5 miliar lebih loh. Angka yang begitu besar membuat banyak orang berbondong-bondong mempelajari pemrograman website. HTML adalah bahasa pertama yang akan mereka pelajari. Nah, tahukah kamu bahwa kita bisa membuat tampilan HTML tanpa kode? Eits, bisa dong! Mau tahu caranya?

Berkenalan dengan Sketch2Code

Buat yang belum kenal, Skecth2Code adalah aplikasi web gratis dari Microsoft yang akan mengubah file gambar menjadi kode HTML. Sketch2Code menggunakan teknologi yang bernama Computer Vision. Computer Vision inilah yang akan mengenali objek dalam pola dalam suatu gambar. Kemudian computer vision ini akan memprediksi elemen desain dalam gambar itu. Selanjutnya Sketch2Code akan mengubah desain menjadi baris-baris HTML. Menariknya lagi, Skecth2Code gratis Loh!

Skecth2code telah terhubung pada platform cloud Microsoft, Microsoft Azure, beserta layanan Web Azure Cloud AI. Sketch2Code memanfaatkan beberapa APIs yakni custom Vision APIs dan Computer Vision APIs untuk deteksi objek, OCR, dan deteksi tulisan tangan.

Sumber : Website Sketch2Code

Untuk menggunakan layanan keren ini, kita perlu mengunjungi web resmi Skecth2Code pada link ini. Selanjutnya kita perlu mengupload desain yang sebelumnya telah tergambar. Selain itu, kita juga dapat secara langsung mengambil gambar melalui kamera device dengan dengan tombol ‘ Take a Picture ‘. Pastikan garis, gambar, dan teks telah terlihat jelas ya.

Sumber : Sketch2Code

Proses selanjutnya adalah proses deteksi objek yang terdapat pada gambar. Hal ini dilakukan melalui Computer Vision. Beberapa saat kemudian website akan menampilkan cuplikan tampilan HTML dari gambar yang terdeteksi. Desain HTML akan berdampingan dengan gambar yang telah kita upload sebelumnya.

Selanjutnya kita tinggal mengunduh kode HTML menggunakan tombol Download Your HTML Code. Kita akan mendapatkan file HTML dari desain yang kita unggah. Buka file dengan browser untuk melihat hasilnya.

Tips:
Untuk mendapatkan hasil yang maksimal, gunakan gambar latar berupa whiteboard yang bersih. Dengan demikian tidak akan ada objek-objek yang akan mengganggu proses identifikasi objek.

Nah, itu lah sedikit pembahasan mengenai membuat membuat tampilan HTML tanpa kode. Ternyata bisa dong.